Pemanfaatan Cloud Computing Bidang Pendidikan
Pada saat ini perkembangan ICT di
Indonesia semakin berkembang. Pemanfataannya pun dilakukan di berbagai bidang
pendidikan. Di level Perguruan tinggi misalnya, Teknologi Informasi telah
diyakini dapat meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Oleh karena itu, para
petinggi universitas ataupun institusi pendidikan lainnya selalu berusaha agar
teknologi ICT bisa diimplementasikan. Data besar adalah
alasan utama dari cloud computing untuk dikembangkan, setiap hari banyak data dalam ukuran PETA- byte di-
upload di dunia digital yang membutuhkan banyak sumber daya penyimpanan dan
komputasi. Cloud computing adalah istilah
pemasaran yang juga dikenal sebagai utilitas
komputasi yang memberikan layanan software,
platform
dan
infrastruktur sebagai layanan
dalam model pembayaran “pay-as-you-go”.
Pendidikan
telah
secara bertahap
diperluas, dan objek pendidikan telah perlahan-
lahan berubah menjadi staf sosial. Perubahan metode pengajaran dari papan
tulis menjadi
Online berkembang sangat pesat. Sebuah tutor Online yang membantu pembelajaran dari setiap kelas di setiap jam merupakan
sebuah kelanjutan
dari penggunaan teknologi dalam pengajaran. E-learning dan solusi online adalah apa
yang kita
perlukan di
lingkungan pendidikan.
Dengan meningkatnya jumlah penerimaan pendidikan, serangkaian masalah
baru muncul. Misalnya
sebagai perubahan metode mengajar, metode yang ada sekarang
tidak dapat memenuhi permintaan dengan ekspansi konstan pendidikan, fasilitas belajar
yang ada juga harus diperbaharui secara terus menerus. Ketika cloud computing muncul, ia menyediakan solusi baru untuk membangun
sebuah platform jaringan pengajaran terpadu,
terbuka dan fleksibel serta mengurangi
input hardware.
Internet
adalah sumber daya dimana
kita dapat mengubah
Cloud Computing,
ia dapat memberikan software yang paling canggih serta bahan pendidikan,
sumber daya
hardware dan layanan bagi mahasiswa dan pendidik di sekolah bahkan kabupaten
paling miskin atau terpencil di suatu provinsi tanpa perlu memiliki kemampuan
IT secara mendalam.
Lembaga – lembaga pendidikan seperti sekolah mapun
kampus sudah tidak lagi membutuhkan media buku dalam proses belajar mengajar.
Para siswa/mahasiswa hanya tinggal mengunduh E-book tersebut melalui internet.
Dari sini para siswa/mahasiswa sudah tidak lagi harus lagi mengeluarkan dana
untuk membeli buku, mereka bisa langsung mengunduh materi yang tersedia di
E-book melalui internet. Dengan ini cloud computing sudah dapat meminimalkan
anggaran dana pengeluaran para pelajar yang memanfaatkan E-book.
II. Rumusan Masalah
1. Definisi cloud computing
2. Sejarah cloud computing
3. Keuntungan cloud computing
4. Jenis layanan cloud computing berdasarkan penerapannya
5. Pemanfaatan cloud computing dibidang pendidikan
III. Batasan Masalah
Batasan masalah yang ditetapkan penulis adalah penerapan cloud computing dalam proses belajar mengajar yang berlangsung ditingkat SMA / SMK sederajat dalam hal ini objek penelitian adalah SMK Negeri 9 Medan .
IV. Tujuan
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah menambah wawasan tentang penerapan cloud computing khususnya dalam tingkat sekolah menengah atas sebagai sarana pendukung pembelajaran yang efektif.
V.Manfaat
Manfaat yang dapat diberikan melalui pembuatan artikel ini adalah :
1. Dapat menjadi refrensi bagi mahasiswa lain untuk dapat dikembangkan dan digunakan
sesuai dengan kebutuhannya.
2. Bagi masyarakat umum dapat menjadi penambah wawasan tentang pemanfaat cloud
computing ini di bidang pendidikan
VI. Landasan Teoritis
Perluasan cakupan dari komputasi awan memungkinkan institusi melakukan pengajaran kepada siswa dengan cara baru, berbeda dan membantu para siswa dalam pengelolaan proyek dan beban kerja yang besar. Ketika para siswa memasuki lingkungan kerja global, mereka akan mudah memahami nilai dari teknologi baru (Rao & Challa, 2013). Perguruan tinggi mengetahui potensi keuntungan penggunaan komputasi awan. Sebenarnya hal ini memungkinkan perguruan tinggi untuk menghindari penyediaan infrastruktur TI (teknologi informasi) yang berlebihan dan mengurangi biaya pemeliharaan. Dalam hal ini, menyediakan mesin virtual (virtual machine) pada komputasi awan daripada menyediakan perangkat komputer kepada mahasiswa/karyawan (Mousannif, Khalil, & Kotsis, 2013). Dengan perkembangan komputasi awan saat ini memberikan alternatif yang signifikan bagi perspektif pendidikan. Mahasiswa dan staf administrasi memiliki kesempatan untuk melakukan akses kepada berbagai platform aplikasi dan sumber daya melalui laman situs on-demand secara cepat dan ekonomis. Hal ini secara otomatis mengurangi biaya bagi organisasi dan menawarkan kemampuan fungsional yang lebih kuat. Secara bertahap dengan menghilangkan biaya lisensi perangkat lunak, biaya perangkat keras, dan biaya perawatan menyebabkan fleksibilitas yang besar.
VII.Pembahasan
1. Definis cloud computing
Keterampilan praktek dan sharing yang terbaik untuk mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan kualitas dan akses pendidikan. Dengan cara ini pengguna tidak perlu membeli server, hanya perlu membeli layanan yang terkait yang dapat menciptakan platform jaringan pengajaran yang efisien. Berdasarkan pandangan IT-Manajemen, secara radikal mengurangi biaya, termasuk pengelolaan sumberdaya listrik, pendingin, dan personil sistem manajemen, saat medongkrak pemanfaatan server dan lisensi perangkat lunak, yang kemudian mengurangi kebutuhan pembelian.
2. Sejarah cloud computing
3. Keuntungan cloud computing
4. Jenis layanan cloud computing berdasarkan penerapannya
5. Pemanfaatan cloud computing dibidang pendidikan
III. Batasan Masalah
Batasan masalah yang ditetapkan penulis adalah penerapan cloud computing dalam proses belajar mengajar yang berlangsung ditingkat SMA / SMK sederajat dalam hal ini objek penelitian adalah SMK Negeri 9 Medan .
IV. Tujuan
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah menambah wawasan tentang penerapan cloud computing khususnya dalam tingkat sekolah menengah atas sebagai sarana pendukung pembelajaran yang efektif.
V.Manfaat
Manfaat yang dapat diberikan melalui pembuatan artikel ini adalah :
1. Dapat menjadi refrensi bagi mahasiswa lain untuk dapat dikembangkan dan digunakan
sesuai dengan kebutuhannya.
2. Bagi masyarakat umum dapat menjadi penambah wawasan tentang pemanfaat cloud
computing ini di bidang pendidikan
VI. Landasan Teoritis
Perluasan cakupan dari komputasi awan memungkinkan institusi melakukan pengajaran kepada siswa dengan cara baru, berbeda dan membantu para siswa dalam pengelolaan proyek dan beban kerja yang besar. Ketika para siswa memasuki lingkungan kerja global, mereka akan mudah memahami nilai dari teknologi baru (Rao & Challa, 2013). Perguruan tinggi mengetahui potensi keuntungan penggunaan komputasi awan. Sebenarnya hal ini memungkinkan perguruan tinggi untuk menghindari penyediaan infrastruktur TI (teknologi informasi) yang berlebihan dan mengurangi biaya pemeliharaan. Dalam hal ini, menyediakan mesin virtual (virtual machine) pada komputasi awan daripada menyediakan perangkat komputer kepada mahasiswa/karyawan (Mousannif, Khalil, & Kotsis, 2013). Dengan perkembangan komputasi awan saat ini memberikan alternatif yang signifikan bagi perspektif pendidikan. Mahasiswa dan staf administrasi memiliki kesempatan untuk melakukan akses kepada berbagai platform aplikasi dan sumber daya melalui laman situs on-demand secara cepat dan ekonomis. Hal ini secara otomatis mengurangi biaya bagi organisasi dan menawarkan kemampuan fungsional yang lebih kuat. Secara bertahap dengan menghilangkan biaya lisensi perangkat lunak, biaya perangkat keras, dan biaya perawatan menyebabkan fleksibilitas yang besar.
VII.Pembahasan
1. Definis cloud computing
Keterampilan praktek dan sharing yang terbaik untuk mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan kualitas dan akses pendidikan. Dengan cara ini pengguna tidak perlu membeli server, hanya perlu membeli layanan yang terkait yang dapat menciptakan platform jaringan pengajaran yang efisien. Berdasarkan pandangan IT-Manajemen, secara radikal mengurangi biaya, termasuk pengelolaan sumberdaya listrik, pendingin, dan personil sistem manajemen, saat medongkrak pemanfaatan server dan lisensi perangkat lunak, yang kemudian mengurangi kebutuhan pembelian.
Definisi dari
cloud
didefinisikan oleh banyak pakar, tapi definisi dari NIST secara umum, Cloud Computing adalah sebuah
mekanisme,
dimana
sekumpulan IT resource
yang saling terhubung
dan
nyaris tanpa batas,
baik
itu infrastruktur maupun aplikasi, dimiliki
dan
dikelola sepenuhnya oleh pihak ketiga,
sehingga memungkinkan
customer untuk menggunakan resource tersebut secara on
demand melalui
network,
baik yang sifatnya jaringan private maupun publik.
Cloud
dapat dianggap sebagai kumpulan dari hardware, software dan sumber lainnya yang dapat diakses melalui internet dan digunakan untuk mencari solusi dari dan untuk menyediakan kembali
layanan
dari user. Cloud computing
menjamin akses dari berbagai sumber komputer, layanannya dinamis, serta pemeliharaan yang mudah dari aplikasi tidak
membutuhkan instalasi pada komputer user. cloud computing seharusnya
elastis dan skalabititas.
2. Sejarah cloud computing
Ide awal dari cloud computing bisa ditarik ke tahun 1960-an, saat John McCarthy, pakar komputasi MIT yang dikenal juga sebagai salah satu pionir intelejensia buatan, menyampaikan visi bahwa “suatu hari nanti komputasi akan menjadi infrastruktur publik, seperti halnya listrik dan telepon”. Namun baru di 1995 lah, Larry Ellison, pendiri Oracle , memunculkan ide “Network Computing” sebagai kampanye untuk menggugat dominasi Microsoft yang saat itu merajai desktop computing dengan Windows 95-nya. Larry Ellison menawarkan ide bahwa sebetulnya user tidak memerlukan berbagai software, mulai dari Sistem Operasi dan berbagai software lain, dijejalkan ke dalam PC Desktop mereka. PC Desktop bisa digantikan oleh sebuah terminal yang langsung terhubung dengan sebuah server yang menyediakan environment yang berisi berbagai kebutuhan software yang siap diakses oleh pengguna. Ide “Network Computing” ini sempat menghangat dengan munculnya beberapa pabrikan seperti Sun Microsystem dan Novell Netware yang menawarkan Network Computing client sebagai pengganti desktop. Namun akhirnya, gaung Network Computing ini lenyap dengan sendirinya, terutama disebabkan kualitas jaringan komputer yang saat itu masih belum memadai, sehingga akses Network Computing ini menjadi sangat lambat, sehingga orang- orang akhirnya kembali memilih kenyamanan PC Desktop, seiring dengan semakin murahnya harga PC. Tonggak selanjutnya adalah kehadiran konsep ASP (Application Service Provider) di akhir era 90-an. Seiring dengan semakin meningkatnya kualitas jaringan komputer, memungkinkan akses aplikasi menjadi lebih cepat. Hal ini ditangkap sebagai peluang oleh sejumlah pemilik data center untuk menawarkan fasilitasnya sebagai tempat „hosting‟ aplikasi yang dapat diakses oleh pelanggan melalui jaringan komputer. Dengan demikian pelanggan tidak perlu investasi di perangkat data center. Hanya saja ASP ini masih bersifat “privat”, di mana layanan hanya dikastemisasi khusus untuk satu pelanggan tertentu, sementara aplikasi yang di sediakan waktu itu umumnya masih bersifat client-server. Kehadiran berbagai teknik baru dalam pengembangan perangkat lunak di awal abad 21, terutama di area pemrograman berbasis web disertai peningkatan kapasitas jaringan internet, telah menjadikan situs-situs internet bukan lagi berisi sekedar informasi statik. Tapi sudah mulai mengarah ke aplikasi bisnis yang lebih kompleks.
3. Keuntungan cloud computing
.
4. Jenis layanan cloud computing berdasarkan penerapannya
Jenis Layanan Cloud Computing Berdasarkan penerapannya, layanan cloud computing menurut Vouk Mladen A, (2008) dapat dibagi menjadi empat model penerapan, yaitu:
Ide awal dari cloud computing bisa ditarik ke tahun 1960-an, saat John McCarthy, pakar komputasi MIT yang dikenal juga sebagai salah satu pionir intelejensia buatan, menyampaikan visi bahwa “suatu hari nanti komputasi akan menjadi infrastruktur publik, seperti halnya listrik dan telepon”. Namun baru di 1995 lah, Larry Ellison, pendiri Oracle , memunculkan ide “Network Computing” sebagai kampanye untuk menggugat dominasi Microsoft yang saat itu merajai desktop computing dengan Windows 95-nya. Larry Ellison menawarkan ide bahwa sebetulnya user tidak memerlukan berbagai software, mulai dari Sistem Operasi dan berbagai software lain, dijejalkan ke dalam PC Desktop mereka. PC Desktop bisa digantikan oleh sebuah terminal yang langsung terhubung dengan sebuah server yang menyediakan environment yang berisi berbagai kebutuhan software yang siap diakses oleh pengguna. Ide “Network Computing” ini sempat menghangat dengan munculnya beberapa pabrikan seperti Sun Microsystem dan Novell Netware yang menawarkan Network Computing client sebagai pengganti desktop. Namun akhirnya, gaung Network Computing ini lenyap dengan sendirinya, terutama disebabkan kualitas jaringan komputer yang saat itu masih belum memadai, sehingga akses Network Computing ini menjadi sangat lambat, sehingga orang- orang akhirnya kembali memilih kenyamanan PC Desktop, seiring dengan semakin murahnya harga PC. Tonggak selanjutnya adalah kehadiran konsep ASP (Application Service Provider) di akhir era 90-an. Seiring dengan semakin meningkatnya kualitas jaringan komputer, memungkinkan akses aplikasi menjadi lebih cepat. Hal ini ditangkap sebagai peluang oleh sejumlah pemilik data center untuk menawarkan fasilitasnya sebagai tempat „hosting‟ aplikasi yang dapat diakses oleh pelanggan melalui jaringan komputer. Dengan demikian pelanggan tidak perlu investasi di perangkat data center. Hanya saja ASP ini masih bersifat “privat”, di mana layanan hanya dikastemisasi khusus untuk satu pelanggan tertentu, sementara aplikasi yang di sediakan waktu itu umumnya masih bersifat client-server. Kehadiran berbagai teknik baru dalam pengembangan perangkat lunak di awal abad 21, terutama di area pemrograman berbasis web disertai peningkatan kapasitas jaringan internet, telah menjadikan situs-situs internet bukan lagi berisi sekedar informasi statik. Tapi sudah mulai mengarah ke aplikasi bisnis yang lebih kompleks.
3. Keuntungan cloud computing
a. Mengurangi biaya
implementasi dan pemeliharaan
b. Meningkatkan mobilitas dalam bekerja
c. Infrastruktur yang
fleksibel
dan
dapat
dihitung
d. Waktu yang cepat untuk pemasaran
e. Transformasi
dalam Departemen IT yang berfokus kepada inovasi,
implementasi, dan pemeliharaan
f. Penghematan Data Center
g. Meningkatkan
ketersediaan
performa
aplikasi yang tinggi
4. Jenis layanan cloud computing berdasarkan penerapannya
Jenis Layanan Cloud Computing Berdasarkan penerapannya, layanan cloud computing menurut Vouk Mladen A, (2008) dapat dibagi menjadi empat model penerapan, yaitu:
1. Private cloud Di mana sebuah infrastruktur layanan
cloud,dioperasikan hanya untuk sebuah organisasi tertentu.
Infrastruktur cloud itu bisa saja dikelola oleh si organisasi itu atau
oleh pihak ketiga. Lokasinya pun bisa on-site ataupun off-site. Biasanya
organisasi dengan skala besar saja yang mampu memiliki/mengelola
private cloud ini.
2. Community cloud Dalam model ini, sebuah
infrastruktur cloud digunakan bersama-sama oleh beberapa organisasi yang
memiliki kesamaan kepentingan, misalnya dari sisi misinya, atau tingkat
keamanan yang dibutuhkan, dan lainnya. Jadi, community cloud ini
merupakan pengembangan terbatas dari private cloud. Dan sama juga dengan
private cloud, infrastruktur cloud yang ada bisa dimanage oleh salah
satu dari organisasi itu, ataupun juga oleh pihak ketiga.
3. Public
cloud Sesederhana namanya, jenis cloud ini diperuntukkan untuk umum oleh
penyedia layanannya. Layanan-layanan yang sudah penulis sebutkan
sebelumnya dapat dijadikan contoh dari public cloud ini.
4. Hybrid cloud
Untuk jenis ini, infrastruktur cloud yang tersedia merupakan komposisi
dari dua atau lebih infrastruktur cloud (private, community, atau
public). Di mana meskipun secara entitas mereka tetap berdiri
sendirisendiri, tapi dihubungkan oleh suatu teknologi/mekanisme yang
memungkinkan portabilitas data dan aplikasi antar cloud itu. Misalnya,
mekanisme load balancing yang antar cloud, sehingga alokasi sumberdaya
bisa dipertahankan pada level yang optimal. Menurut Sridhar (2009).
4. Pemanfaatan cloud computing bidang pendidikan
4. Pemanfaatan cloud computing bidang pendidikan
Di dunia pendidikan cloud computing dilakukan dengan cara staff
pengajar mempunyai blog yang difungsikan untuk membantu sistem
pembelajaran. Interaksi siswa dan pengajar bisa dilakukan diluar jam
belajar mengajar bisa dilakukan melalui blog tersebut. Sehingga
pembelajaran tidak hanya dilaksanakan dengan waktu yang terbatas.
Pembuatan blog tersebut dilakukan dengan memanfaatkan peyedia layanan
penyimpanan data gratis diinternet. Staff pengajar mengupload materi
materi yang dibutuhkan, sedangkan siswa mendowload materi tersebut.
Hasilnya proses pembelajaran dengan cloud computing terbukti memudahkan
kedua belah pihak, baik pengajar maupun siswa, juga membuat lebih
efisien dalam hal waktu dan biaya.
Tidak hanya sebatas blog, siswa dan guru juga dapat memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan oleh beberapa pengembang cloud computing seperti Google , atau Microsoft sebagai Software as Service dalam menunjang pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Siswa tidak perlu lagi membawa buku dalam jumlah banyak, guru dapat memanfaatkan Fasisilitas drive yang terlah tersdia oleh Google ( Google Drive ) atau pun Microsoft ( One Drive ) atau Drop Box.
Pemanfaatan lainnya siswa dapat menggukan sarana email dalam mengirim tugas, hal ini dirasa dapat lebih efisien dan lebih ramah lingkungan. Dalam pemanfaatan lain di lingkungan belajar mengeajar guru dan murid dapat melakukan pembelajaran diluar lingkungan sekolah dengan memanfaatkan sarana Google Duo.
Hal ini akan sangat bermanfaat dan lebih ramah lingkungna dari pada menggunakan cara sebelumnya.
VIII. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Cloud computing adalah solusi
untuk
berbagai macam masalah komputasi.
Bahkan kita berada dijaman IT komplikasi
komputasi telah
menciptakan banyak bencana dunia komputer. Banyak krisis telah terjadi di dunia bisnis maupun lingkungan akademik. Keamanan
data, penyimpanan, pengolahan daya yang terbatas saat menggunakan komputasi tradisional. Data
juga dalam risiko dan tidak tersedia di sepanjang masa. Namun dengan menggunakan Cloud Computing
semua masalah terselesaikan.
Komputer di lingkungan akademik harus
memiliki hardware dan software terbaru.
Berdasarkan
biaya banyak yang tidak dapat
mengisi ketersediaan dari sumber daya untuk mahasiswa dan staff dengan
menggunakan cloud
computing di
lingkungan akademik kita
dapat memecahkan semua
persoalan. Cloud computing
adalah sebuah teknologi baru yang sesuai dengan lingkungan apapun..
Saran
Dalam pengerapan cloud computing yang semakin memudahkan proses belajar mengajar dalam lingkungan sekolah, tidak menutup kemungkinan akan hal negatif lainnya yang muncul, seperti penggunakan gadget yang tidak semestinya, yang seharusnya ditujukan untuk belajar mengejar. Dalam hal ini orang tua dan guru perlu menanam kan rasa tanggung jawab kepada siswa, dan rasa displin untuk menanggulangi hal seperti itu.
IX. Daftar Pustaka
1.http://binus.ac.id/malang/2017/09/pemanfaatan-cloud-computing-dalam-dunia-pendidikan-bagian-1/
2.http://binus.ac.id/malang/2017/09/pemanfaatan-cloud-computing-dalam-dunia-pendidikan-bagian-2/
3.https://adilalaras.wordpress.com/2017/04/01/implementasi-cloud-computing-dalam-bidang-pendidikan/
4.https://www.academia.edu/17015154/Jurnal_Cloud_Computing
5.https://samuraibali.blogspot.com/2016/11/penerapan-cloud-computing-dalam.html
6.https://docplayer.info/54775366-Penerapan-cloud-computing-sebagai-sarana-pembelajaran-siswa.html

Comments
Post a Comment